Selasa, 28 Juni 2011

download cf

cara download pb anda tdk mengetahuinya hanya disini http://pb.gemscool.com/index.php?act=7&sub=1 download yg atas jgn yg bawah

Minggu, 26 Juni 2011

Bad Kids

A/N: Fiksi yang sedikit menyimpang dari fiksi buatan saya yang biasanya.

Rasanya menyenangkan membuat ini, dan maukah kalian meluangkan waktu untuk membacanya hingga akhir?

I Hope.

Warning: OOC or typo.

Disclaimer: Bleach Tite Kubo

Bad Kids

Chapter 1.

Anak Jalanan: Hitsugaya Toushiro

"Hei, jangan kabur!" Langkah kaki yang memburu, dibarengi teriakan yang barusan menjadi penambah ketegangan yang ada di pusat pasar itu. Seorang anak laki-laki usia belasan berambut perak menyala menjadi bulan-bulanan pria dewasa berwajah sangar. Anak itu dikejar karena satu hal yang memang sepantasnya. Seorang pedagang daging yang masuk ke dalam gerombolan pria sangar tadi mengacungkan pisau potongnya yang sebesar papan talenan. Ia merasa tak terima potongan daging yang sebenarnya tidak terlalu besar itu dicolong anak tadi.

"Berhenti mengejarku!" anak itu berteriak sekuat mungkin. Beberapa orang ia tabrak, sebagian ia lewati dengan mudah karena badannya yang memang masih ukuran anak remaja. Mukanya menunjukkan ekspresi yang tidak tenang, jelas saja, dan rasa takut setengah mati terukir jelas di sana.

Sebenarnya kalau dilihat dari sumber masalah, dia memang sedang sangat lapar dan tidak mempunyai uang yang setidaknya cukup untuk membeli sebungkus nasi tanpa lauk. Semua memang bukan dari niat jahat yang pure, tapi lebih kepada keadaan yang memaksa. Siapa anak malang ini? Tidakkah ia mempunyai orang tua yang seharusnya memenuhi kebutuhannya? Jawabannya tidak.

Anak ini adalah salah satu dari banyaknya anak jalanan di kota kecil Karakura yang hidup di jalan dengan keadaan yang selalu memaksa tadi. Beberapa di antaranya bekerja dengan mengamen, meminta-minta dan ada yang dengan mengorbankan kesehatan tubuhnya, ojek payung. Anak ini, Toushiro Hitsugaya, sebenarnya salah satu dari anak bermata pencaharian pengemis. Tapi untuk pagi ini, ia sudah sangat lapar―karena malam sebelumnya ia 'puasa'―dan uang yang ia dapat telah dicuri preman-preman tengah malam yang mendatangi setiap anak jalanan di pinggiran trotoar yang sedang tidur dan mengambil uang yang bukan miliknya.

"Tertangkap, kau!" Anak itu diangkat sampai tak menyentuh tanah. Acungan pisau potong tadi dihadapkan di depan mukanya. "Kau mau mati, hah?"

"Sa-sa-saya lapar," jawabnya. Tidak sinkron memang. Tapi setidaknya yang bertanya tadi tahu maksudnya.

"Kalau mau makan, kau harus beli―pakai uang! Makanya, anak jalanan sih, anak jalanan, kan bisa kerja juga." Pendapat yang egois, sangat egois. Dia memang belum merasakan kejamnya jalanan yang bahkan dirasakan anak remaja yang terlihat masih polos ini.

"Bawa saja dia ke kantor polisi. Biar dia dapat makanan di penjara sana," usul seseorang. Hitsugaya langsung merubah raut wajahnya, lebih menderita lagi. Tangannya gemetar dan orang yang memeganginya dapat merasakan getaran itu.

"Lepaskan aku!" Hitsugaya berusaha dengan keras melepaskan tangannya. Dan saat perhatian orang itu lemah, kakinya melayang-layang hingga menerbangkan sandal jepit buluk ke muka orang itu. Hitsugaya pun kabur, ia lari dengan masih membawa daging di balik gulungan baju bagian perutnya. Setidaknya sandal buluk itu menjadi bayaran yang cukup untuk pedagang yang sedang sial itu.

###

"Boleh aku pinjam kompor?" tanya anak malang itu.

"Tidak," jawaban yang sama terdengar untuk kesekian kalinya. Masalah untuk anak jalanan tak pernah berhenti. Punya bahan mentah bukanlah keuntungan yang cukup baginya. Ia masih perlu kompor dan piring untuk memasak dan memakannya dengan lahap.

Hitsugaya membawa gondolan daging itu di balik bajunya. Daging itu sudah pasti tidak bersih lagi. Tapi bersih, mahal, dan enak sekalipun bukanlah taraf yang dipasang Hitsugaya untuk bisa makan. Yang paling pasti bisa membuatnya kenyang.

"Boleh aku pinjam kompor?" tanyanya lagi pada seorang pedagang bakmi kelinci.

"Aku sedang jualan. Kalau mau, pakai korek ini," jawab pedagang itu. Ia memberikan korek api batangan satu kotak. Isinya memang tinggal enam batang, tapi dengan itu Hitsugaya sudah lega. Setidaknya ada yang memberikan pertolongan meskipun hanya sedikit.

Hitsugaya berjalan ke pojok taman. Ia menyusun beberapa ranting pohon agar bisa dibuat unggun. Tiga korek dipakainya dengan sia-sia. Ranting itu jadi sulit terbakar karena tanpa minyak tanah. Hitsugaya tidak punya barang itu, dan ia pun tidak tahu kalau bahan itu sangat perlu dalam proses bakaran. Beruntung sinar matahari sedang terik-teriknya bertengger tepat di atasnya. Hingga pada korek yang kelima, api itu menjalar juga meski sangat kecil dan lambat.

Hitsugaya mengambil kaleng yang tergeletak di sekitar taman. Ia isi dengan air keran yang tersedia di taman itu, lalu ia rebus hingga mendidih. Dibandingkan dengan masak di dapur, waktu yang diperlukan hanya untuk mendidihkan air saja jauh lebih lama, kira-kira hampir tigapuluh menit. Belum untuk mematangkan daging yang mungkin akan menghabiskan waktu lebih dari dua jam. Itulah sebabnya, Hitsugaya tidak mematangkan daging itu dengan sempurna.

"Heii, dia punya makanan!" seru seorang anak jalanan yang tiba-tiba melewati taman itu. Tiga anak bergerombolan menyerbu Hitsugaya dan meminta dengan paksa daging yang tidak banyak itu. "Kami minta sedikit, ya. Kami juga belum makan," pintanya memelas lalu pergi.

Alhasil, tinggal sepotek daging yang ditinggalkan untuk Hitsugaya. Malang memang nasib Hitsugaya. Ia memakan daging tak berbagi dengan yang lain, tapi pada kenyataannya ia jarang mendapat imbalan untuk itu semua; ia tak punya teman dan tak ada yang membaginya makanan jika kelaparan.

###

Hitsugaya Toushiro, anak itu kini sudah semakin dewasa. Umurnya sudah enambelas tahun. Tubuhnya masih belum sebesar anak yang lain, mungkin karena nutrisi yang diterimanya kurang. Kehidupan anak jalanan tidaklah pernah mudah baginya. Meskipun dirinya kini sudah mendapat tampungan dari preman tengik, menjadi bagian di dalamnya: gerombolan usaha anak jalanan, Hitsugaya tetap saja mendapati penderitaan lain, kali ini berupa kekerasan fisik.

Seorang yang mereka anggap penolong mereka di kala mereka membutuhkan yang namanya tempat tinggal dan sedikit makanan, ternyata tidak melakukannya dengan cuma-cuma. Mereka diajari teknik kejahatan yang licik dan beresiko, yakni mencopet. Dan Hitsugaya menjadi murid terbodoh di bidang ini. Itulah sebabnya, Hitsugaya terkadang tidak melakukan kewajibannya itu dan sebagai ganjarannya hukuman dari sang preman. Sebenarnya sama saja jika ia lakukan juga. Karena kebanyakan dari aksinya itu, ia justru tertangkap basah dan dihajar massa.

Zarakhi Kenpachi, semula ia disanjung karena datang membawa pertolongan. Setahun yang lalu ia menghampiri Hitsugaya dan memberinya bungkusan nasi dengan ukuran porsi cukup banyak. Hitsugaya jelas tidak menolak yang namanya pemberian itu, mungkin itu pemberian pertama dalam hidupnya dan beruntung nasi itu tidak sedikit, hingga kala anak yang lain meminta, ia masih kenyang.

Orang itu kini hanya tersenyum picik. Kerjanya memang ada, memalak di pasar dan angkotan kota, tapi jelas sebagian besar penghasilannya bukanlah berasal dari sana, melainkan dari setoran tigapuluh anak yang ditampungnya. Sistem kerjanya begini, ia memalaki warung-warung makan untuk makanan anak jalanan, lalu palakan pasar lainnya untuk kebutuhan sehari-hari di luar makan, dari kerjanya yang tak menguras keringat itu―hanya menegangkan otot wajah agar terlihat sangar―ia mendapatkan bayaran yang jauh lebih dari cukup dari anak-anak yang ditampungnya.

"Toushiro!" panggil Kenpachi. Ia sedang duduk di sebuah tong besar berisi bensin. Ya, beberapa anak tampungan yang sudah cukup dewasa dipercayakan untuk mengolah usaha yang satu ini. "Kau belum ambil makananmu, kan?" tanyanya.

"Anu, aku ... uangku tidak cukup," akunya.

"Berikan saja yang ada, dan ambil makananmu lalu kemari," suruh Kenpachi. Hitsugaya langsung riang. Jarang-jarang sekali Kenpachi membolehkannya makan padahal uang yang ia miliki tidak mencukupi untuk setoran.

Ia memberikan beberapa lembaran uang bernilai rendah ditambah recehan logam yang cukup banyak pada Kenpachi. Lalu ia mengambil bungkusan nasi di pojokan ruangan, mengantri dengan tiga anak lainnya. Setelah mendapatkan bungkusan dengan ukuran porsi yang cukup banyak, ia kembali pada Kenpachi. "Aku makan di sini?" katanya.

"Tunggu sebentar! Ehn, kau makan segini saja. Senilai dengan jumlah yang kauberikan," katanya sambil mengambil bungkusan nasi Hitsugaya, lalu membagi dua, lebih tepatnya menyisakan kurang dari setengah untuk Hitsugaya boleh makan.

Hitsugaya jelas tak bisa melawan. Ia hanya bisa duduk termengu meratapi nasib yang tak pernah berpihak kepadanya. Ia duduk di pojokan di mana Kenpachi tidak bisa mengamati lahapnya ia makan. Jelas ia berpikir, supaya orang itu tidak mengambil bagiannya lagi.

Hitsugaya mengambil posisi duduk bersila tepat di sebelah teman perempuannya, Hiyori Sarugaki. Hn, sebenarnya predikat yang lebih tepat untuk perempuan itu adalah satu-satunya teman Hitsugaya, beruntung yang ini perempuan. Ya, mungkin sedikit efek samping karenanya, Hitsugaya menjadi kalah tanding dalam perkara kejantanan. Hiyori Sarukagi merupakan anak jalanan, sebaya dengan Hitsugaya, berambut blonde yang selalu dikepang dua, dengan gaya tomboy yang berlebihan, pencinta keberantakan, pembenci kelemahlembutan.

"Berapa kali kaulakukan?" tanya Hiyori saat Hitsugaya mengambil suapan pertamanya.

"Hah? Lakukan apa?" tanya Hitsugaya. Jelas, pertanyaan itu wajar berubah menjadi pertanyaan lagi. Hiyori memang tidak suka cara blak-blakan.

Hiyori menghentikan kunyahannya sebentar. "Buang air besar, hah? Mencopet bodoh! Kau lupa siapa dirimu?" bentaknya cukup terdengar mereka berdua.

"Kau lupa kita sedang makan? Jangan berkata yang sepantasnya!" Hitsugaya memberanikan diri menonjolkan urat tidak senangnya terhadap perkataan 'buang air besar' tadi. Ia sedang lapar dan bisa-bisa ia tidak jadi makan dan kelaparan karena tiga kata itu.

"Berapa kali?" tanyanya lagi, menegaskan dirinya memang tidak sedang bercanda.

"Dua kali. Tapi aku hanya berhasil mengambil uang nenek itu. Yang sa-tu la-gi," jawab Hitsugaya terhenti di akhirnya.

"Gagal, kan?" Hiyori memastikan. Anggukan Hitsugaya menjadi jawaban yang pasti. "Habiskan makananmu. Habiskan juga punyaku kalau kau mau. Aku menunggumu di luar. Cepat, ya!" suruhnya lalu meninggalkan Hitsugaya di tempat ini bersama bungkusan makanannya yang tidak jadi ia habiskan.

"Eh?"

###

"Sudah selesai?" saat Hitsugaya keluar dari rumah jalanan itu, pertanyaan itulah yang terlontar dari bibir Hiyori berhubung Hitsugaya keluar dengan ekspresi yang sangat berbeda; kenyang?

"Apanya yang sudah?" Hitsugaya mengulangi getaran yang sama ketika membalikkan pertanyaan Hiyori tadi.

"Apa harus kubilang?" Hiyori memastikan.

Hitsugaya berpikir tentang 'buang air besar' yang akan menjadi sindiran lagi. Merasa sudah mengerti, ia pun menjawab, "Makananmu sudah kuhabiskan. Kau yang minta, kan?"

Hiyori menyoroti Hitsugaya dengan tatapan tajamnya. "Yang kumaksud buang air besar, heh? Kalau belum, keluarkan besok saja. Karena malam ini kau akan terus berlari," katanya dengan simpul senyum yang menakutkan di mata Hitsugaya. "Kau harus lari, karena kalau tidak kau akan ditangkap. Dan di saat itulah aku lepas tanggung jawab."

###

"Hei! Jangan seperti Kenpachi! Kau ini apa-apaan, sih! Jangan bilang kau sedang disuruh mengambil nilai praktekku?" Hitsugaya berusaha menghentikan langkah Hiyori yang memburu.

"Tidak ada nilai. Aku hanya akan mengajarimu, berhubung aku sebagai pemegang rekor nomor satu di bidang ini." Yang mereka bicarakan seperti topik anak sekolahan, tapi dalam konteks lain, yakni mencopet. Siapa sangka mereka punya mata kuliah mencopet? "Lihat, di sana ada perempuan, kupastikan dia tidak akan menghajarmu, tubuhnya bahkan tidak lebih besar dariku―"

"Meski tubuhmu kecil, kau sering menghajarku," sanggah Hitsugaya dengan nada menyindir.

'TAK!'

Kini mereka berdua bersembunyi di balik kios kosong, mengamati perempuan tadi.

"―kau ambil tasnya. Jangan sekali-kali kau memikirkan nasib korbanmu, itu peraturan pertama. Dan untuk menyukseskan aksimu, anggap yang kau copet itu aku: orang yang telah merebut nasi bungkusmu, menginjaknya lalu kubuang ke kolam ikan lele. Puas?" jelas Hiyori. Ia mengabaikan Hitsugaya yang mengaduhkan benjol kepalanya yang baru saja lahir.

"Kau mengatakan itu setelah kau memberiku setengah dari makananmu?" Hitsugaya mengangkat tangan. Pertama ia tak bisa melakukan intruksi yang 'menganggap' tadi. Kedua ia memang tak mau melakukan hal itu, belajar mencopet.

'DUG!'

"Puas?" tanya Hiyori sambil menatap Hitsugaya dengan lebam biru tak ketara di lengannya. "Sekarang, ya!"

Hitsugaya berlari perlahan dari satu titik ke titik yang lain―titik-titik yang aman menurutnya. Melihat punggung perempuan itu berhenti, ia pun ikut berhenti. Benar saja, perempuan tadi mengengok ke belakang menyadari sesuatu yang aneh. Seseorang memang mengikutinya, dan berniat tidak baik padanya.

Hitsugaya kembali beraksi. Kali ini tepat berada di belakang perempuan itu. Ia memasang ancang-ancang, kakinya ia posisikan siap mendorong tubuhnya. Ia sudah perkirakan ia akan membelok di pertigaan itu. Beruntung, kendaraan bermotor yang melewati jalan itu tidak menaruh perhatian padanya.

Satu, dua, tiga ...!

Hitsugaya merampas tas mungil itu dengan sempurna―Hiyori melompat senang di belakang sana. Hitsugaya berlari sekencang mungkin. Ya, cukup kencang sampai perempuan tadi tak mampu mengejarnya. Sesuatu yang aneh dirasakan Hitsugaya dalam aksinya yang kali ini. Tidak ada teriakan minta tolong seperti biasanya.

Sebelum tikungan itu ia ambil, Hitsugaya menoleh sebentar ke belakang. Dan apa yang dilihatnya sangat mengejutkan dirinya hingga langkah cepat itu berhenti juga. Perempuan itu terbaring di trotoar, dan di saat seperti itu jalan yang tadinya dilewati beberapa kendaraan bermotor sekarang benar-benar sepi.

"Eh," ucap Hitsugaya. Ia tidak jadi melarikan diri. Bahkan sekarang ia menghampiri tubuh lunglai itu. Perempuan bercepol tadi benar-benar tak sadarkan diri saat Hitsugaya berusaha membangunkannya. 'Dia mati?' benak Hitsugaya ketakutan.

"Kau lupa apa yang telah kukatakan tadi? Berikan tasnya padaku! Tinggalkan saja orang ini di sini!" Hiyori yang tiba-tiba datang langsung membentak Hitsugaya. Ia berusaha menyeret Hitsugaya bersamanya, tapi kaki Hitsugaya seakan terpaku pada tempatnya tak bergerak sedikit pun.

"Bawa orang ini ke rumah sakit!" Hitsugaya balik membentak. Ia berikan tas perempuan itu pada Hiyori, lalu ia gendong perempuan bercepol tadi. Hitsugaya tampak panik dengan keadaan dan ia merasa tersudut karenanya. Jantung Hitsugaya berdebar secepat mungkin, ia takut orang ini mati karenanya. Itu akan menjadi tekanan seumur hidup bagi Hitsugaya yang masih muda ini.

"Hei, tunggu aku!"

Bersambung.

A/N: Terimakasih banyak untuk readers yang setia dan baik hati hingga membaca A/N ini.

Saya harap ini tidaklah membuat readers bosan hingga tak berniat mereview dan menunggu chapter berikutnya.

I Hope.

Jumat, 24 Juni 2011

fanfiction

Summary: Sasuke tukang contek? Dia itu kan juara kelas yang super alim dan cool. Lihat kisahnya lebih lanjut.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
A/N: Sebuah fic abal yang dibuat dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya (?). Sebuah bentuk luapan saya (author) yang sama sekali tidak kesampaian mencontek karena ciut mental. Hah, padahal saya punya begitu cara-cara licik (eiit, jangan ditiru) untuk melakukannya, hahaha.
Just read and review ^.>!
Sasuke, You’re A Damn Cheater
Warning: semi-Canon
JANGAN TIRU APAPUN YANG BURUK DI FIC INI~!
***
Percaya atau tidak, Sasuke itu tukang contek kelas kakap. Setidaknya itu gosip yang sedang hangat diperbincangkan seisi kelas. Sebenarnya bukan hanya kelas itu yang sibuk membicarakan topik hangat tersebut, beberapa guru juga menyinggung hal itu dalam topik perbincangan mereka di ruang guru.
Sebenarnya sulit dipercaya, murid sealim Sasuke yang sampai saat ini mendapat predikat jenius seantero sekolahnya, ternyata mendapatkan nilai-nilainya dengan cara curang. Banyak yang mau tak percaya, guru-guru dan murid-murid perempuan yang sejak semula terpikat dengan wajah tampan dan sosok cool Sasuke berada di pihak Sasuke. Mereka menganggap itu hanya sekedar gosip yang biasa menerjang artisnya yang sedang naik daun.
Sebaliknya, banyak murid laki-laki, khususnya yang menaruh dendam pada Sasuke akibat kalah saing, merasa desas-desus itu benar dan patut diperjuangkan bukti-buktinya.
Bagaimana dengan Sasuke? Apa ia tidak merasa risih dengan pembicaraan itu—seperti artis-artis dengan sejuta gosip? Hn, sepertinya itu sama sekali tak mengganggu dia. Dia masih saja mencetak skor terbaik di lembaran ulangan tertulis yang masuk ke dalam kategori ‘INI SUSAH!’. Ia masih saja memancarkan aura cool-nya pada setiap orang yang ia jumpai. Memang bakat artis sudah dimilikinya sejak kecil—banyak yang memujanya—dan kini mental tahan gosip juga dimilikinya.
Beberapa agen media sekolah pun turut membesar-besarkan berita itu. Dan kali ini Tenten, Ino dan Lee, sebagai editor majalah sekolah memasangkan rencana mereka di mading sekolah, katanya: “KEBENARAN DI BALIK NILAI TERBAIK SASUKE AKAN TERUNGKAP, baca Konozine edisi berikut.” 
Mereka berniat mencari kebenaran akan desas-desus itu. Dan permainan mereka dimulai saat ulangan mata pelajaran Ninjutsu diadakan.

***
Semua murid tampak sudah siap menghadapi ulangan yang sebulan lalu telah direncanakan. Sengaja direncanakan sejak sebulan lalu, sebagai tanda peringatan ulangan tidak akan memuat soal yang mudah. Semua tampak tegang, kecuali dua orang, Naruto dan Shikamaru. Shikamaru tampak menguap dan malas-malasan meletakkan keperluan alat tulisnya di atas meja, sedangkan Naruto tampak bingung dengan keadaan kelas yang mendadak tenang. Tumpukan buku yang sebelumnya berada di atas tiap-tiap meja, dipelajari, hafali sedemikian rupa, sudah mereka masukan ke dalam tas dan kini alat tulis tersusun rapi di atas sana.
Sebuah kamera kecil terpasang di langit-langit tepat di atas kepala Sasuke. Di sisi kiri dan kanan Sasuke juga dipasangi kamera serupa: yang satu di sisi jendela—berada tidak jauh dari tempat Sasuke—dan yang satu dipasang di sisi meja Shino yang menghadap langsung ke tempat Sasuke. Semuanya sudah dipersiapkan Tenten dengan sedemikian rupa. Ino dan Lee pun sengaja absen di jam pelajaran itu. Mereka berada di ruang sebelah yakni ruang aula, di mana mereka menonton hasil rekam kamera-kamera tadi secala live.
Kakashi memasuki kelas hening itu. Ia membawa tumpukan kertas yang dibungkus plastik transparan. Pulpen tinta merah telah ia siapkan di sakunya. Daftar nilai pun telah ia bawa sekalian di tangan yang satunya. Itu pertanda buruk, berarti nilai ulangan akan diperiksa di tempat dan dibacakan bersamaan dengan itu. Dan, sungguh gawat jika nilai yang dimaksud kurang dari delapan: malu setengah mati!
“Siapkan alat tulis kalian. Tidak diperkenankan menaruh apapun di dalam laci,” perintah Kakashi. Semuanya pun berlaku demikian. Sasuke? Ia meletakan dua buah pulpen tinta hitam, pensil, penghapus, dan ... hanya itu. Kotak pensil ia masukkan ke dalam tas, lalu tasnya ia letakkan di sisi kursi Naruto yang berada di serong kirinya.
“Heh, kenapa kau jauhkan tasmu? Ada bom di dalamnya?” tanya Naruto kebingungan.
“Aku hanya ingin membuktikan aku tidak mencontek,” Sasuke mengumumkan maksudnya. Beberapa mendengarkannya, namun beberapa yang lain sibuk sampai tak menaruh perhatiannya pada Sasuke. Sebagian memang tenang melihat meja Sasuke yang kosong dari sehelai kertas juga coretan berarti. Kiba malah mengecek laci meja Sasuke, dan kosong dari benda mencurigakan.
Dan ulangan pun berlangsung dengan tenang. Tak ada mata yang memandang ke arah Sasuke, karena ... ulangan yang mereka kerjakan menyedot semua perhatian dan konsentrasi mereka. Kakashi tampak sedang membaca buku novel dewasa kesukaannya, dan sedikit suara bisa terdengar bila ada. Jika ada yang berbisik memberi jawaban pun pasti akan langsung terdengar. Sayangnya keberanian untuk melakukan tanya-jawab ilegal di kelas ini sangatlah ciut. Pengalaman mengajari mereka. Semua murid yang ketahuan berlaku demikian langsung mendapat tusukan maut di lubang pantat mereka, dan tak ada yang menikmati keahlian Kakashi yang satu itu. Ya, terakhir Gaaralah yang merasakan pain itu.
Sasuke dengan tenang mengerjakan soal ulangan itu. Sepuluh menit pertama berlangsung tanpa kendala. Lee dan Ino di ruang sebelah saja sudah panas memandangi layar TV beradiasi tinggi itu. Dan hasil masih nihil.
Akhirnya, setelah menuju menit keduabelas, pensil Sasuke jatuh dari mejanya. Sasuke terpaksa membungkukkan badannya untuk mencapai pensilnya itu dan ... kamera merekam adegan itu, adegan yang penting karena: tangan Sasuke meraba sisi dalam kaki meja. Alhasil sebuah kertas ukuran kecil menempel di tangannya. Sebuah contekan? Ino dan Lee mencatat adegan yang satu ini, untuk menjadi bahan redaksi mereka.
Apa benar Sasuke mencontek? Ia tampak melihat isi kertas lalu melanjutkan pekerjaannya. Ya, masih dengan tenang. Sudah seperti profesional. Jadi, apa benar selama ini Sasuke mencontek?
Beberapa menit kemudian, Sasuke mulai beraksi lagi. Kali ini ia menggaruk-garukkan kepalanya. Tiba-tiba, lagi-lagi ada yang jatuh, kali ini dari balik ikatan kepalanya yang berwarna biru. Apa? Ketombe? Bukan! Lagi-lagi kertas kecil. Ino mencatat apa yang ia lihat di ruang sebelah melalui TV itu. Sasuke lagi-lagi membuka kertas itu, lalu menuliskan sesuatu di lembar jawabnya. Sasuke benar-benar mencontek, setidaknya itu yang dipikirkan Ino dan Lee sekarang.
Sasuke masih tampak tenang. Tak ada satu pun yang melihat gelagat Sasuke, karena yang lain masih saja berkutat dengan soal-soal sulit yang tercetak di atas kertas. Bahkan Neji, orang nomor dua di kelas ini, dibuat berkeringat tak berkutik di depan soal itu.
Kembali ke Sasuke. Sasuke mulai beraksi lagi, kali ini tangannya menyalip ke dalam laci. Lah, bukannya Kiba sudah memastikan laci itu kosong? Ternyata tidak benar-benar kosong. Sasuke meraba langit-langit laci dan, kertas yang sudah di doubletip ia tarik hingga berada dalam genggamannya. Sasuke benar-benar licik kali ini. Bahkan ia menciptakan taktik yang tak pernah terpikirkan oleh siapa pun, hingga Kiba si ‘dengus-dengus’ saja ditipunya.
Untungnya, adegan ini bisa menjadi bukti yang benar-benar menjatuhkan Sasuke. Sasuke yang licik sedemikian rupa akan benar-benar dipermalukan.
Lee di ruang sebelah sudah habis kesabaran, dan dari tadi mukanya yang merah padam karena marah tak tergambarkan. Ia juga melompat-lompat tak jelas, kalau orang bilang, kakinya sudah panas ingin menendang terdakwa.
Ternyata tidak sampai di situ. Sasuke masih punya kertas yang di simpannya. Kali ini Ia membuka pulpen cadangannya yang sedari tadi terletak begitu saja di ujung meja. Eiit, pulpen itu aneh. Pulpen yang di bukanya itu kosong dari batang tinta. Oh, seperti dugaan Ino dan Lee. Sasuke menarik sebuah kertas dari rongga pulpen yang seharusnya dimuat batang tinta. Kertas itu dilipat dua dan memiliki ukuran lebih panjang dibanding tiga kertas sebelumnya.
“Wah, tampaknya kertas itu mampu memuat banyak kunci jawaban. Dasar curang, dia menyingkirkan tasnya yang besar itu supaya kita mengabaikan hal kecil yang dapat dimanfaatkan seperti pulpen kosong!” komentar Lee dengan nada penuh emosi.
Tidak hanya itu saja yang tersembunyi dari pulpen ‘siasat’ itu. Ternyata Sasuke masih mempunyai secarik kertas super mini di dalam tutup pulpennya yang tidak transparan itu. Pulpen itu keseluruhan berwarna hitam sehingga di balik kerangkanya itu tidak mungkin ada yang tahu begitu banyak ‘simpanan’ Sasuke.
“Yang satu ini tidak bisa tidak ditulis. Benar-benar niat jahat. Oh, aku tak pernah menyangka selama ini ...,” ucap Ino.
“Kita gebrak sekarang saja. Aku sudah tak sabar mengungkapkan kebenaran ini pada yang lain. Sasuke akan langsung menerima ganjarannya,” nada-nada kekesalan mengiringi gertak Lee barusan.
Mereka pun segera meninggalkan ruang itu. Lee dan Ino tampak bersemangat dengan guratan kesal di pipi mereka.
“Braaak!!!”
“Sasuke, Sasuke mencontek!” teriak Ino memecahkan keheningan kelas.
“Kita punya rekamannya,” susul Lee sambil membongkar kamera mini di jendela dan meja Shino.
“Hah?” Seluruh kelas terbelalak mendengar kabar itu. Semua mata langsung menuju pada sosok Sasuke. Kakashi masih membuka halaman novelnya, tapi matanya tidak melihat ke arah situ, juga ikut menatap Sasuke tajam.
Sasuke berdiri dari tempat duduknya. Ia tampak tenang menghadapi puluhan pasang mata yang tertuju padanya. Semua tampak menuntut jawab dari Sasuke.
“Kalian bohong,” katanya.
“Hah?” Lagi-lagi kelas memelas tak berarah. Bingung harus percaya pada siapa.
“Hn, kalian akan percaya pada kami. Lee, ambil rekaman videonya,” suruh Ino. Lee pun bergegas ke ruang sebelah. “Contekan pertama berada di sisi dalam kaki meja. Contekan kedua berada di dalam ikatan kepala Sasuke. Contekan ketiga ada di langit-langit laci meja Sasuke, dan contekan keempat berada di bagian dalam kerangka pulpen. Dan ...,” Ino belum berhenti dan melanjutkan kata-kata keterangannya, “aku kira ada sesuatu di balik ikat pinggangmu, Sasuke.”
“Hah?”
Aneh. Ino sudah begitu dekat memojokkan Sasuke, tapi Sasuke tak berkeringat sedikit pun. Padahal untuk kategori seorang terdakwa, Sasuke sudah berada di taraf gawat. Apalagi Lee sudah kembali membawa rekaman tadi, bukti otentik yang tidak bisa diganggu gugat.
“Ini.” Sasuke mengeluarkan secarik kertas dari balik ikat pinggangnya, yaitu kertas yang terjepit antara kulit dalam dan bagian pinggang celana Sasuke.
“Hah?” seisi kelas berderham sedikit tak percaya dengan analisis Ino yang ternyata seratus persen tepat.
“Ini. Ambil semua,” perintah Sasuke, memberikan carikan kertas yang tadi—jumlahnya lima—kepada Ino sang ‘penuntut’. “Kau bisa lihat? Aku cukup dengan belajar untuk mendapatkan nilai terbaik. Dan bagaimana pun aku tak pernah mengakui desas-desus tersebut. Pada intinya apa kalian puas? Siapa pun yang memulai kabar kosong itu, aku tak pernah peduli. Yang penting, kalian telah menjadi salah satu terdakwanya.”
Ino sukses dibuat bingung dengan perkataan Sasuke barusan. Seisi kelas pun menjadi semakin tak terarah. Bahkan Neji yang sempat terhenti mengerjakan tugas, mulai mengacuh Sasuke dan setiap masalahnya dan mengerjakan kembali ulangannya.
Jadi, Sasuke belum mengakui kesalahannya. Bahkan ia dengan sombong menentang kebenaran yang telah terekam bukti. Apa ini ungkapan malu Sasuke terhadap setiap kesalahannya yang sudah tak terelak lagi.
“Bacalah yang kau bilang contekan itu.”
Ino membuka kertas-kertas yang tadi diterimanya. Sebagian kertas sudah kusut, tapi tulisan di dalamnya masih bisa dibaca.
“I’M NOT.”
“A DAMN.”
“CHEATER.”
“LIKE YOU THINK.”
“FOOL.”
“Dan aku sudah menyelesaikan ulangan ini di menit kesepuluh, Kakashi-sensei,” katanya sambil membawa lembar jawabnya dan diletakkan di meja Kakashi.
Ino masih terpaku. Sadar dikerjai Sasuke membuatnya merasakan apa yang tadinya harus dirasakan Sasuke: malu setengah mati.
“Eiit, Sasuke. Kau masih belum bisa keluar kelas. Kau kena hukum,” cegat Kakashi saat Sasuke berniat meninggalkan kelas muaknya. “Karena membuat kehebohan hingga ulangan menjadi macet, kau benar-benar mengganggu yang lain. Atas nama wali kelas, kau diskors dua hari.”
Sasuke terbelalak. Rasanya dua persen rasa yang sedang dialami Ino tersalurkan pada Sasuke seketika.


                                                                ***
Arigatou gozaimasu, Kakashi-sensei,” Neji dan beberapa murid laki-laki lainnya berbisik pada Kakashi.
“Tenang saja. Aku juga salah satu yang tidak menyukai anak itu kok,” jawab Kakashi. “Tidak sia-sia aku menyebarkan gosip itu, hihihi,” tawanya geli. “Padahal aku sudah mulai was-was saat Sasuke mengungkap ulahnya dengan sengaja.”
“Hah?”
“Jadi, Sensei yang menyebarkan gosip itu?” tanya Kiba.
“Hihihi. Hanya merealisasikan niat dalam kalian, kan?”
“Kau gawat, Sensei.”
(=.=)
=Owari=
A/N: Oooops, ending yang abal melenceng dari perkiraan. Kakashi OOC yak.
Hehe, gimana? Hanya fic abal tanpa arti, kok.
Hanya luap-luapan aja. Habis, saya juga sering dikira nyontek sih di kelas. Padahal sih, nggak. Cuma mau aja.~~~
Maaf yak typo-nya. Nggak diperiksa lagi soalnya.
Oh, saya minta review-nya sangat. Nggak log-in juga tak apa. (Dih, maksa.)
Haha, saya lumayan kagok loh buat Fic Naruto lagi. Ini untuk kedua kalinya.
Jadi, sekali lagi, review yak. ^.>!




Kamis, 23 Juni 2011

cara membuat facebook

langkah pertama adalah buka link http://www.facebook.com/?ref=home seperti gambar dibawah :

langka 2. isi formulir tetapi anda pasti bingung dengan email anda tidak mengetahui emailnya karna anda belum punya email cara membuat email gampang-gampang susah buka link disini  
https://sa.edit.yahoo.com/registration?.pd=&intl=id&origIntl=&done=http%3A%2F%2Fid.yahoo.com%2F&src=fpctx&last=&partner=yahoo_default&domain=&yahooid= seperti gambar dibawah ini

isi formulir dengan baik dan benar
lalu email anda tulis di formulir facebook tadi lalu konfirm facebook di email anda untuk dapat berfungsi facebooknya


smartfren

smart skrg sudah bekerjasama dengan fren dengan nama smartfren lebih murah lebih cepat n lebih lama gratisannya tadinya 15 hari jadi 1 bulan smart hebat hemat

iklan gratis

mw buat iklan  hanaya ada disini